ASKEP SS DEGENERATIF MULTIPLE SKLEROSIS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN

GANGGUAN SISTEM SARAF DEGENERATIF

Disusun oleh :

Ns. AFIYAH HIDAYATI, S.Kep

Degeneratif adl. Perubahan morfologi akibat cedera non lethal, bersifat reversible, bila berlangsung lama dan derajatnya berat dapat menimbulkan kematian sel dan tempatnya digantikan oleh jaringan penunjang dan fibrotik sehingga menimbulkan penurunan fungsi.

Karakteristik penyakit degeneratif :

g Dimulai secara tersembunyi

g Berjalan lambat

g Menurun secara progresif

g Berlangsung lama

MULTIPLE SKLEROSIS

A. DEFINISI

Multiple sclerosis (MS) merupakan keadaan kronis, penyakit degeneratif dikarakteristikkan oleh adanya bercak kecil demielinasi pada otak dan medulla spinalis

Demielinasi menunjukkan kerusakan myelin yaklni adanya material lunak dan protein disekitar serabut-serabut saraf otak. Myelin adl. Substansi putih yang menutupi serabut saraf yang berperan dalam konduksi saraf normal (konduksi salutatory). MS merupakan salah satu gangguan neurologik yang menyerang usia muda sekitar 18-40 tahun. Insidens terbanyak terjadi pada wanita.

B. ETIOLOGI

Penyebab MS belum diketahui secara pasti namun ada dugaan berkaitan dengan virus dan mekanisme autoimun (Clark, 1991). Ada juga yang mengaitkan dengan factor genetic.

Ada beberapa factor pencetus, antara lain :

Kehamilan

Infeksi yang disertai demam

Stress emosional

Cedera

C. MANIFESTASI KLINIS

Tergantung pada area system saraf pusat mana yang terjadi demielinasi :

F Gejala sensorik : paralise ekstremitas dan wajah, parestesia, hilang sensasi sendi dan proprioseptif, hilang rasa posisi, bentuk, tekstur dan rasa getar.

F Gejala motorik : kelemahan ekstremitas bawah, hilang koordinasi, tremor intensional ekstremitas atas, ataxia ekstremitas bawah, gaya jalan goyah dan spatis, kelemahan otot bicara dan facial palsy.

F Deficit cerebral : emosi labil, fungsi intelektual memburuk, mudah tersinggung, kurang perhatian, depresi, sulit membuat keputusan, bingung dan disorientasi.

F Gejala pada medulla oblongata : kemampuan bicara melemah, pusing, tinnitus, diplopia, disphagia, hilang pendengaran dan gagal nafas.

F Deficit cerebellar : hilang keseimbangan, koordinasi, getar, dismetria.

F Traktus kortikospinalis : gangguan sfingter timbul keraguan, frekuensi dan urgensi sehingga kapasitas spastic vesica urinaria berkurang, retensi akut dan inkontinensia.

F Control penghubung korteks dengan basal ganglia : euphoria, daya ingat hilang, demensia.

F Traktus pyramidal dari medulla spinalis : kelemahan spastic dan kehilangan refleks abdomen.

F Dsb.

D. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

d Lumbal punction : pemeriksaan elektroforesis terhadap LCS, didapatkan ikatan oligoklonal yakni terdapat beberapa pita immunoglobulin gamma G (IgG).

d CT Scan : gambaran atrofi serebral

d MRI : menunjukkan adanya plak-plak kecil dan bisa digunakan mengevaluasi perjalanan penyakit dan efek dari pengobatan.

d Urodinamik : jika terjadi gangguan urinarius.

d Neuropsikologik : jika mengalami kerusakan kognitif.

E. PENATALAKSANAAN

Ä Bersifat simtomatik : sesuai dengan gejala yang muncul

Ä Farmakoterapi :

a. Kortikosteroid, ACTH, prednisone sebagai anti inflamasi dan dapat meningkatkan konduksi saraf.

b. Imunosupresan : siklofosfamid (Cytoxan), imuran, interferon, Azatioprin, betaseron.

c. Baklofen sebagai antispasmodic

Ä Blok saraf dan pembedahan dilakukan jika terjadi spastisitas berat dan kontraktur untuk mencegah kerusakan lenih lanjut.

Ä Terapi fisik untuk mempertahankan tonus dan kekuatan otot

F. PENGKAJIAN

1. DATA UMUM

2. DATA DASAR :

Aktivitas / istirahat

Gejala : kelemahan, intoleransi aktivitas, kebas, parastesia eksterna

Tanda : kelemahan umum, penurunan tonus/massa otot, jalan goyah/diseret, ataksia

Sirkulasi

Gejala : edema

Tanda : ekstremitas mengecil, tidak aktif, kapiler rapuh

Integritas ego

Gejala : HDR, ansietas, putus asa, tidak berdaya, produktivitas menurun

Eliminasi

Gejala : nokturia, retensi, inkontinensia, konstipasi, infeksi saluran kemih

Tanda : control sfingter hilang, kerusakan ginjal

Makanan / cairan

Gejala : sulit mengunyah/menelan

Tanda : sulit makan sendiri

Hygiene

Gejala : bantuan personal hygiene

Tanda : kurang perawatan diri

Nyeri / ketidaknyamanan

Gejala : nyeri spasme, neuralgia fasial

Keamanan

Gejala : riwayat jatuh/trauma, penggunaan alat bantu

Seksualitas

Gejala : impotent, gangguan fungsi seksual

Interaksi social

Gejala : menarik diri

Tanda : gangguan bicara

Neurosensori

Gejala : kelemahan, paralysis otot, kebas, kesemutan, diplopia, pandangan kabur, memori hilang, susah berkomunikasi, kejang

Tanda : status mental (euphoria, depresi, apatis, peka, disorientasi.

Bicara terbata-bata, kebutaan pada satu mata, gangguan sensasi sentuh/nyeri, nistagmus, diplopia

Kemampuan motorik hilang, spastic paresis, ataksia, tremor, hiperfleksia, babinski + , klonus pada lutut

G. DIAGNOSA DAN INTERVENSI KEPERAWATAN

Dx. Kerusakan mobilitas fisik b.d kelemahan, paresis otot, spastisitas

KH: – berpartisipasi dalam program rehabilitasi

mendemonstrasikan tingkah laku yang mempertahankan/meningkatkan aktivitas

Intervensi :

î tentukan tingkat kemampuan aktivitas klien

î Kaji adanya kelemahan

î Berikan perubahan posisi secara teratur pada pasien yang tirah baring

î Bantu pemenuhan kebutuhan dasar klien sesuai dengan kebutuhan

î Kolaborasi : terapi fisik/kerja oleh ahli fisioterapi, pengobatan (steroid, baklofen, imunosupresan)

Dx. Perubahan pola eliminasi urinarius : inkontinensia b.d gangguan neuromuskuler

KH: – Klien mampu memaham kondisinya

Klien menunjukkan teknik mencegah infeksi

Intervensi :

î Catat frekuensi berkemih

î Lakukan program latihan kandung kemih

î Anjirkan minum cukup dan menghindari minum sebelum tidur

î Lakukan dan anjurkan klien untuk melakukan perineal hygiene setelah berkemih

î Berikan perawatan kateter pada klien yang terpasang kateter urin

î Kolaborasi : pasang kateter jika diperlukan, pengobatan (antibiotic)

Dx. Koping individu tidak efektif b.d perubahan fisiologis, cemas dan takut

KH : klien bisa menerima keadaannya

Intervensi :

î Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya

î Kaji mekanisme koping yang biasa digunakan

î Dengarkan keluhan klien dengan empatik

î Bantu klien mengidentifikasi sisi positif yang dimiliki klien

î Berikan imformasi ytang dibutuhkan klien

î Kolaborasi : konsulkan ke ahli psikoterapi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: