ASKEP FISIOTERAPI DADA

KEBUTUHAN DASAR MANUSIA
FISIOTERAPI DADA
By. Ns. AFIYAH HIDAYATI, S.Kp

A. DEFINISI

    Fisioterapi adalah suatu cara atau bentuk pengobatan untuk mengembalikan fungsi suatu organ tubuh dengan memakai tenaga alam. Dalam fisioterapi tenaga alam yang dipakai antara lain listrik, sinar, air, panas, dingin, massage dan latihan yang mana penggunaannya disesuaikan dengan batas toleransi penderita sehingga didapatkan efek pengobatan.
    Fisioterapi dada adalah salah satu dari pada fisioterapi yang sangat berguna bagi penderita penyakit respirasi baik yang bersifat akut maupun kronis. Fisioterapi dada ini walaupun caranya kelihatan tidak istimewa tetapi ini sangat efektif dalam upaya mengeluarkan sekret dan memperbaiki ventilasi pada pasien dengan fungsi paru yang terganggu. Jadi tujuan pokok fisioterapi pada penyakit paru adalah mengembalikan dan memelihara fungsi otot-otot pernafasan dan membantu membersihkan sekret dari bronkus dan untuk mencegah penumpukan sekret, memperbaiki pergerakan dan aliran sekret. Fisioterapi dada ini dapat digunakan untuk pengobatan dan pencegahan pada penyakit paru obstruktif menahun, penyakit pernafasan restriktif termasuk kelainan neuromuskuler dan penyakit paru restriktif karena kelainan parenkim paru seperti fibrosis dan pasien yang mendapat ventilasi mekanik. Fisioterapi dada ini meliputi rangkaian : postural drainage, perkusi, dan vibrasi
    Kontra indikasi fisioterapi dada ada yang bersifat mutlak seperti kegagalan jantung, status asmatikus, renjatan dan perdarahan masif, sedangkan kontra indikasi relatif seperti infeksi paru berat, patah tulang iga atau luka baru bekas operasi, tumor paru dengan kemungkinan adanya keganasan serta adanya kejang rangsang.

B. Postural drainase

    Postural drainase (PD) merupakan salah satu intervensi untuk melepaskan sekresi dari berbagai segmen paru dengan menggunakan pengaruh gaya gravitasi.. Mengingat kelainan pada paru bisa terjadi pada berbagai lokasi maka PD dilakukan pada berbagai posisi disesuaikan dengan kelainan parunya. Waktu yang terbaik untuk melakukan PD yaitu sekitar 1 jam sebelum sarapan pagi dan sekitar 1 jam sebelumtidur pada malam hari.
    PD dapat dilakukan untuk mencegah terkumpulnya sekret dalam saluran nafas tetapi juga mempercepat pengeluaran sekret sehingga tidak terjadi atelektasis. Pada penderita dengan produksi sputum yang banyak PD lebih efektif bila disertai dengan clapping dan vibrating.
    Indikasi untuk Postural Drainase :
    1. Profilaksis untuk mencegah penumpukan sekret yaitu pada :
    1.1. Pasien yang memakai ventilasi
    1.2. Pasien yang melakukan tirah baring yang lama
    1.3. Pasien yang produksi sputum meningkat seperti pada fibrosis kistik atau bronkiektasis
    1.4. Pasien dengan batuk yang tidak efektif .
    2. Mobilisasi sekret yang tertahan :
    2.1. Pasien dengan atelektasis yang disebabkan oleh sekret
    2.2. Pasien dengan abses paru
    2.3. Pasien dengan pneumonia
    2.4. Pasien pre dan post operatif
    2.5. Pasien neurologi dengan kelemahan umum dan gangguan menelan atau batuk
    Kontra indikasi untuk postural drainase :
    1. Tension pneumotoraks
    2. Hemoptisis
    3. Gangguan sistem kardiovaskuler seperti hipotensi, hipertensi, infark miokard akutrd infark dan aritmia.
    4. Edema paru
    5. Efusi pleura yang luas
    Persiapan pasien untuk postural drainase.
    1. Longgarkan seluruh pakaian terutama daerah leher dan pinggang.
    2. Terangkan cara pengobatan kepada pasien secara ringkas tetapi lengkap.
    3. Periksa nadi dan tekanan darah.
    4. Apakah pasien mempunyai refleks batuk atau memerlukan suction untuk mengeluarkan sekret.
    Cara melakukan pengobatan :
    1. Terapis harus di depan pasien untuk melihat perubahan yang terjadi selama Postural Drainase.
    2. Postoral Drainase dilakukan dua kali sehari, bila dilakukan pada beberapa posisi tidak lebih dari 40 menit, tiap satu posisi 3 – 10 menit.
    3. Dilakukan sebelum makan pagi dan malam atau 1 s/d 2 jam sesudah makan.
    Penilaian hasil pengobatan :
    1. Pada auskultasi apakah suara pernafasan meningkat dan sama kiri dan kanan.
    2. Pada inspeksi apakah kedua sisi dada bergerak sama.
    3. Apakah batuk telah produktif, apakah sekret sangat encer atau kental.
    4. Bagaimana perasaan pasien tentang pengobatan apakah ia merasa lelah, merasa enakan, sakit.
    5. Bagaimana efek yang nampak pada vital sign, adakah temperatur dan nadi tekanan darah.
    6. Apakah foto toraks ada perbaikan.
    Kriteria untuk tidak melanjutkan pengobatan :
    1. Pasien tidak demam dalam 24 – 48 jam.
    2. Suara pernafasan normal atau relative jelas.
    3. Foto toraks relative jelas.
    4. Pasien mampu untuk bernafas dalam dan batuk.
    Alat dan bahan :
    1) Bantal 2-3
    2) Tisu wajah
    3) Segelas air hangat
    4) Masker
    5) Sputum pot
    Prosedur kerja :
    1) Jelaskan prosedur
    2) Kaji area paru, data klinis, foto x-ray
    3) Cuci tangan
    4) Pakai masker
    5) Dekatkan sputum pot
    6) Berikan minum air hangat
    7) Atur posisi pasien sesuai dengan area paru yang akan didrainage
    8. Minta pasien mempertahankan posisi tersebut selama 10-15 menit. Sambil PD bisa dilakukan clapping dan vibrating
    9) Berikan tisu untuk membersihkan sputum
    10) Minta pasien untuk duduk, nafas dalam dan batuk efektif
    11) Evaluasi respon pasien (pola nafas, sputum: warna, volume, suara pernafasan)
    12) Cuci tangan
    13) Dokumentasi (jam, hari, tanggal, respon pasien)
    14) Jika sputum masih belum bisa keluar, maka prosedur dapat diulangi kembali dengan memperhatikan kondisi pasien

C. Clapping/Perkusi

    Perkusi adalah tepukan dilakukan pada dinding dada atau punggung dengan tangan dibentuk seperti mangkok. Tujuan melepaskan sekret yang tertahan atau melekat pada bronkhus. Perkusi dada merupakan energi mekanik pada dada yang diteruskan pada saluran nafas paru. Perkusi dapat dilakukan dengan membentuk kedua tangan deperti mangkok.
    lndikasi untuk perkusi :
    Perkusi secara rutin dilakukan pada pasien yang mendapat postural drainase, jadi semua indikasi postural drainase secara umum adalah indikasi perkusi.
    Perkusi harus dilakukan hati-hati pada keadaan :
    1. Patah tulang rusuk
    2. Emfisema subkutan daerah leher dan dada
    3. Skin graf yang baru
    4. Luka bakar, infeksi kulit
    5. Emboli paru
    6. Pneumotoraks tension yang tidak diobati
    Alat dan bahan :
    1) Handuk kecil
    Prosedur kerja :
    1) Tutup area yang akan dilakukan clapping dengan handuk untuk mengurangi ketidaknyamanan
    2) Anjurkan pasien untuk rileks, napas dalam dengan Purse lips breathing
    3) Perkusi pada tiap segmen paru selama 1-2 menit dengan kedua tangan membentuk mangkok

D. Vibrating

    Vibrasi secara umum dilakukan bersamaan dengan clapping. Sesama postural drainase terapis biasanya secara umum memilih cara perkusi atau vibrasi untuk mengeluarkan sekret. Vibrasi dengan kompresi dada menggerakkan sekret ke jalan nafas yang besar sedangkan perkusi melepaskan/melonggarkan sekret. Vibrasi dilakukan hanya pada waktu pasien mengeluarkan nafas. Pasien disuruh bernafas dalam dan kompresi dada dan vibrasi dilaksanakan pada puncak inspirasi dan dilanjutkan sampai akhir ekspirasi. Vibrasi dilakukan dengan cara meletakkan tangan bertumpang tindih pada dada kemudian dengan dorongan bergetar.
    Kontra indikasinya adalah patah tulang dan hemoptisis.
    Prosedur kerja :
    1) Meletakkan kedua telapak tangan tumpang tindih diatas area paru yang akan dilakukan vibrasi dengan posisi tangan terkuat berada di luar
    2) Anjurkan pasien napas dalam dengan Purse lips breathing
    3) Lakukan vibrasi atau menggetarkan tangan dengan tumpuan pada pergelangan tangan saat pasien ekspirasi dan hentikan saat pasien inspirasi
    4) Istirahatkan pasien
    5) Ulangi vibrasi hingga 3X, minta pasien untuk batuk

Gambar A : Segmen apikal pada lobus kanan atas dan sub segmen apikal dari segmen posterior pada lobus kiri atas. Aliran terjadi dari cabang-cabang tersebut di atas ke bronki utama.
Gambar B : Segmen posterior pada lobus kanan atas dan sub segmen posterior dada segmen apikal posterior pada lobus kiri atas. Aliran terjadi dari cabang-cabang tersebut di atas ke bronki utama.
Gambar C : Segmen anterior pada kedua belah lobus atas. Dengan memiringkan badan ke kiri dari ke kanan secara berganti-ganti aliran dari lobus atas kanan dan kiri ke bronkus utama.
Gambar D : Segmen superior pada kedua belah lobus atas. Dengan sebuah bantal yang diletakkan di bawah perut tubuh dibuat agak dalam posisi menungging, aliran terjadi dari Cabang tersebut ke bronkus utama.
Gambar E : Segmen basal posterior pada kedua belah lobus bawah. Aliran terjadi dan percabangan bronkus ke bronkus yang bersangkutan.
Gambar F : Segmen basal lateral pada lobus bawah kanan. Aliran terjadi dari percabangan bronkus ke bronkus kanan.
Gambar G : Segmen basal lateral pada lobus bawah kiri. Aliran terjadi dari percabangan bronlms kebonkus kiri.
Gambar H :
(Posisi kepala ke bawah, tubuh oblik kanan) Sasaran : Lobus tengah kanan. Aliran dari percabangan tersebut ke bronkus kanan.
(Posisi kepala ke bawah, oblik kiri) Sasaran : Segmen lingular pada lobus atas kiri. Aliran dari percabangan tersebut ke bronkus kiri.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: